Langsung ke konten utama

Mengapa Terdapat Perbedaan Rentang Gejala COVID-19?


Mengapa Terdapat Perbedaan Rentang Gejala COVID-19?


  • Beberapa orang yang terinfeksi virus korona tidak memiliki gejala, beberapa ada yang sedang, namun sebanyak 1 dari 5 orang mengalami kondisi yang berat1.
  • Menurut Dr. Kari Stefansson kemungkinan perbedaan respon seseorang terhadap virus bersumber dari keberagaman urutan virus itu sendiri. Kemungkinan ada banyak jenis virus dan beberapa dari mereka bersifat lebih agresif dari yang lain. Kemungkinan lain adalah bersumber dari keberagaman genetik pasien. Atau mungkin kombinasai keduanya1.
  • Tiga dari faktor-faktor resiko yang memengaruhi tingkat keparahan COVID-19 memiliki komponen genetik yaitu tekanan darah tinggi, obesitas, dan diabetes2.
  • Diantara pendorong utama respon imun kita adalah seperangkat gen yang dikenal sebagai kompleks HLA (human leukocyte antigen). Gen ini mengode protein permukaan sel yang memberikan sinyal pada sistem imun. Adanya perbedaan sinyal menyebabkan perbedaan reaksi sistem imun untuk menanggapi pathogen. Gen HLA memengaruhi kerentanan kita terhadap sejumlah penyakit termasuk virus3.
  • Selain pengaruh gen, ada juga pengauh dari trained immunity atau imun yang terlatih. Sistem kekebalan tubuh kita tidaklah kekal, mereka belajar dari pathogen-patogen yang pernah menyerang kemudian menyesuaikan pertahanan. Beberapa peneliti berspekulasi jika kita sebelumnya pernah terinfeksi virus korona (family), kemungkinan kekebalan terhadap SARS-CoV-2 akan lebih tinggi3.
  • Kebiasaan kita juga memengaruhi reaksi tubuh terhadap virus. Berdasarkan penelitian, pada perokok reseptor virus korona yaitu ACE2 lebih banyak sehingga memberikan lebih banyak rute/akses potensial untuk virus. Pada perokok virus akan dapat masuk ke lebih banyak sel dalam jumlah yang lebih tinggi3.
  • Salah satu penentu tingkat keparahan COVID-19 adalah adanya badai sitokin. Setelah SARS-CoV-2 masuk ke sel, sitokin (protein pemberi sinyal imun) memberikan peringatan. Sitokin diproduksi unutk merekrut perbaikan jaringan. Masalah terjadi ketika tubuh mulai mengeluarkan banyak sitokin. Sitokin dan sel perusak yang tidak terkendali ini merusak jaringan yang sehat, menyebabkan kerusakan paru-paru yang luas dan menghambat upaya perbaikan normal oleh tubuh. Pada sebagian besar orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat, sel-sel kontrol yang disebut regulatory T cells membantu mengurangi volume sel penyerang. Pada beberapa orang berusia tua atau memiliki defisit imun akibat penyakit kronis, regulatory T cells tidak berfungsi secara normal. Hal tersebut dapat menyebabkan badai sitokin yang mengakibatkan peradangan berlebihan di paru-paru yang dapat mengancam jiwa. Anak-anak kurang rentan terhadap kondisi ini karena pengaturan sistem kekebalannya masih baik3.

    Penelitian-penelitian yang dilakukan untuk mengetahui penyebab perbedaaan rentang gejala COVID-19:

1.     UK Biobank1


  •         UK Biobank memiliki sampel darah, urin, dan air liur dari 500.000 volunteers beserta informasi kesehatannya yang dipantau selama lebih dari satu decade. Saat ini ditambahkan data mengenai COVID-19, yaitu berupa hasil pengujian virus korona dan data rumah sakit.
  •          Lebih dari 15.000 peneliti dari seluruh dunia dapat mengakses UK Biobank.
  •      Diharapkan berdasarkan data-data yang tersedia dapat menjelaskan apakah perbedaan genetik mempengaruhi tingkat keparahan pada pasien COVID-19.
  •          Apakah perbedaan dari genetik mereka?
  •          Apakah perbedaan pada gen berhubungan dengan respon imun?
  •          Apakah terdapat perbedaan pada kesehatan mereka?
  •          Para peneliti akan menelusuri keseluruhan data genom untuk mencari variasi kecil pada DNA.
  •          Salah satu daerah yang menjadi daya tarik adalah gen ACE2 yang menjadi reseptor virus dalam menginfeksi manusia.

 2.     Rockefeller University, New York1


  •       Tim yang dipimpin oleh Prof. Jean-Laurent Casanova berencana meneliti orang-orang dengan usia <50 tahun tanpa kondisi medis mendasar namun saat terinfeksi COVID-19 perlu dibawa ke unit perawatan intensif.
  •          Pasien yang diteliti berasal dari seluruh dunia, hampir dari semua negara.
  •          Sampel dikumpulkan, diurutkan genomnya, kemudian dianalisis.
  •          Penelitian sebelumnya menunjukkan beberapa penyakit termasuk flu dan herpes dapat membuat seseorang dengan variasi genetik atau kesalahan kekebalan bawaan menjadi lebih sakit. Hal ini disebabkan kesalahan kekebalan bawaan sejak lahir yang membuat manusia rentan terhadap suatu mikroba. Kesalahan kekebalan bawaan ini bisa bersifat tidak terdeteksi/silent selama beberapa decade hingga orang tersebut terinfeksi oleh mikroba tertentu. Hal ini akan diaplikasikan kemungkinannya tehadap COVID-19.

 3.     University of Helsinki, Finlandia1


  •        Prof. Andrea Ganna memimpin upaya untuk mengumpulkan informasi genetik tentang pasien COVID-19 dari seluruh dunia.
  •          Penelitian ini melibatkan ratusan ribu orang untuk mengumpulkan data dari pasien yang positif COVID-19.

 4.     Decode Genetics, Iceland1


  •         Decode Genetics telah mengurutkan genom dari setengah populasi penduduk Iceland.
  •     Setiap kali ada seseorang yang positif COVID-19, dilakukan pengurutan DNA virus untuk melihat apakah terdapat perubahan/variasi.

 5.     23andMe2


  •      23andMe Inc. memiliki data genetik yang luas dan dapat digunakan untuk mencari petunjuk mengenai cara kerja virus.
  •      Perusahaan akan menyurvei pelanggan dan mencari tahu apakah pelanggan tersebut terinfeksi korona serta menanyakan respon terhadap tubuh akibat COVID-19.

 6.     NYU Langone Health2


  •          Dokter melakukan analisis lebih dari 4.000 pasien yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19
  •      Pasien berumur >65 tahun dan overweight (kelebihan 80–100 pon) lebih berpotensi masuk rumah sakit.
  •     Pasien dengan kadar oksigen rendah dan memiliki inflamasi adalah yang paling mungkin mengalami kritis.
  •     Pasien yang overweight berusia <60 tahun dua kali lebih mungkin masuk ke rumah sakit dibanding yang kurus.
  •          Pasien yang obesitas memiliki kemungkinan tiga kali lebih beasar masuk rumah sakit.

 7.     Chinese University of Hong Kong3


  •         Peneliti dari Chinese University of Hongkong dan lembaga lainnya telah menemukan varian gen HLA tertentu yang dikaitkan dengan tingginya tingkat gejala SARS yang parah, yaitu virus korona yang berhubungan dengan COVID-19.
  •          Para peneliti saat ini sedang menyelidiki apakah terdapat gen spesifik HLA yang menyebabkan seseorang memiliki tingkat perlindungan lebih tinggi atau lebih rendah terhadap virus.
  •          Jika gen berhasil diidentifikasi maka dapat dibuat kit deteksi yang akan memberikan informasi seberapa rentan seseorang terhadap penyakit.

 8.     Cina3

  •         Pasien COVID-19 yang mengalami kondisi parah memiliki kadar regulatory T cells lebih rendah pada darahnya. 

    Sumber

1. BBC. UK Biobank: DNA to unlock Coronavirus secrets. 14 April 2020. (https://www.bbc.com/news/health-52243605) diakses tanggal 21 April 2020
2.       Bloomberg. Your Risk of Getting Sick From COVID-19 May Lie in Your Genes. 16 April 2020. (https://www.bloomberg.com/news/articles/2020-04-16/your-risk-of-getting-sick-from-covid-19-may-lie-in-your-genes) diakses tanggal 22 April 2020
3. Discover Magazine. Who Gets Sickest From COVID-19? 17 April. (https://www.discovermagazine.com/health/who-gets-sickest-from-covid-19) diakses tanggal 23 April 2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Spektrometri Massa - Prinsip Dasar

Aspek-aspek pada spektroskopi massa yang saling terkait Prinsip dasar spektrometri massa (MS) adalah: 1. Memperoleh ion baik dari senyawa organik maupun inorganik melalui metode ionisasi yang sesuai 2. Memisahkan ionberdasarkan perbandingan massa terhadap muatannya (m/z) 3. Deteksi secara kualitatif dan kuantitatif berdasarkan m/z dan kelimpahannya Ionisasi dapat dilakukan melalui: 1. Thermal 2. Medan listrik 3. Pemberian elektron, ion, atau foton Ion yang terbentuk dapat berupa: 1. Atom tunggal terionisasi 2. Clusters 3. Molekul 4. Fragmen MS terdiri dari: 1. Sumber ion ( ion source ) 2. Mass analyzer 3. Detektor Bagian-bagian instrumen spektrometri massa Sejak tahun 1990 an, MS dioperasikan melalui total data system control . Analisis dengan MS bersifat destruktif atau merusak sampel, namun jumlah sampel yang diperlukan sangat sedikit (< µ g). Spektrum Massa Spektrum massa menggambarkan intensitas sinyal (sumbu y) terhadap m/z (sumbu x). Posisi puncak menunjukkan m/z analit. Inten...

Spektrometri Massa - Sejarah

Instrumen pertama untuk memisahkan ion berdasarkan perbandingan massa terhadap muatan dibuat oleh Joseph John Thomson untuk memahami debit listrik pada gas untuk analisis muatan fasa gas dan elemen yang terlibat. Joseph John Thomson  Penelitiannya menyebabkan penemuan atom, isotop, dan dengan demikian diakui sebagai bapak spektrometri massa. Beberapa dekade selanjutnya, Francis William Aston mengembangkan teknik recolusioner sehingga dapat dilakukan karakterisasi atom dari berbagai elemen. Aston dianugerahi hadiah Noble Kimia pada 1922 . Francis William Aston  Instrumen yang dibuat oleh J. J. Thomson adalah spektograf parabola, menggunakan medan magnet dan listrik paralel untuk mencapai defleksi spesies ionik bergantung pada jenis muatan, muatan, dan massa. spektograf parabola buatan J. J. Thomson Ion-ion yang keluar dari sumber ion dilewatkan melalui collmator untuk membuat sinat yang kira-kira sejajar kemudian dikirim ke analyzer. Medan listrik kapasitor planar membelokkan ...

Down Syndrome

Sebagian besar kasus down syndrome disebabkan oleh kromosom 21 (kromosom terkecil pada manusia) yang tidak berpisah dengan baik saat pembentukan sel sperma atau sel telur, sehingga saat terjadi pembuahan, embrio akan memiliki ekstra kromosom 21 ( Gambar 1 ). Embrio yang membawa kromosom dalam jumlah ekstra akan mendapatkan produk berlebih dari gen yang diekspresikan oleh ekstra kromosom tersebut, sehingga dapat mengganggu kerja protein dan reaksi-reaksi yang terjadi di dalam tubuh. Pada tahun 40-an, sebagian besar anak down syndrome tidak dapat mencapai usia remaja akibat masalah kesehatan yang rentan diderita, seperti congenital heart defects, immunodefisiensi, dan leukimia. Saat ini dengan penanganan kesehatan yang lebih baik, penderita down syndrome dapat mencapai usia hingga 60-an tahun. Penanganan kesehatan terhadap down syndrom diantaranya adalah pemberian antibiotik hingga operasi katup jantung. Saat ini, terapi yang dilakukan terhadap penderita down syndrome juga men...